BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Jumat, 18 Maret 2011

Teror Bom untuk siapa?

Teror Bom Buku yang terjadi sore tadi di Kantor Radio Berita (KRB) 68H, di jalan Utan Kayu, ternyata juga di kirim ke Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN). Hanya saja di BNN tidak sempat ada korban, karena sudah diketahui lebih dahulu dan berhasil dijinakkan oleh Tim Gegana. Sekitar pukul 21.45 tadi sudah diledakkan oleh Gegana.

Bom Buku ini dibuat dengan sangat terencana, baik dari segi bentuk maupun kemasannya diperhitungkan dengan sangat rapih. Besaran ledakannyapun terkesan sangat diperhitungkan hanya untuk menghabisi si penerima saja, dan tidak cukup luas radius ledakannya.

Motif dari penyebaran Bom Buku ini masih belum terungkap, kalau berdasarkan surat si pengirim Bom untuk Ulil Abshar, ada beberapa orang yang sudah menjadi targetnya, namun memang tidak disebutkan siapa saja yang menjadi target tersebut.

Adakah ini merupakan upaya kelompok teroris yang selama ini melakukan pengeboman dibeberapa daerah di Indonesia selama ini ? Belum ada yang menduga kearah sana, banyak dugaan yang berkembang dimasyarakat terkait kejadian tersebut, ada yang menganggap sebagai upaya pengalihan isu terhadap kasus yang cukup aktual akhir-akhir ini, terutama kasus koran australia The Age yang membuat para petinggi Istana kebakaran jenggot.

Terlepas dari semua isu tersebut, teror Bom Buku ini harus diwaspadai sebagai “Warning” bagi aparat keamanan, agar lebih bertindak antisipatif dan tidak bersifat pasif. Juga Badan Intelijen Negara lebih menunjukkan kinerjanya, mendeteksi lebih dini upaya teror seperti tersebut diatas.
»»  READMORE...

Selasa, 15 Februari 2011

Ujian Sekolah TP 2010-2011 yang FIX

klik "download" untuk mendownload data : download


»»  READMORE...

Jumat, 28 Januari 2011

Tanjung Benoa

Tanjung Benoa merupakan tempat wisata di Bali yang terkenal akan pantainya. Selain itu, tempat ini juga merupakan sarana olahraga air, khususnya surfing. Jadi, Benoa dianggap sebagai tempatnya water sport.
»»  READMORE...

Pantai Kuta

Langsung ke: navigasi, cari
Pantai Kuta di sore hari.

Pantai Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di sebelah selatan Denpasar, ibu kota Bali, Indonesia. Kuta terletak di Kabupaten Badung. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara, dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal 70-an. Pantai Kuta sering pula disebut sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach) sebagai lawan dari pantai Sanur.

Di Kuta terdapat banyak pertokoan, restoran dan tempat permandian serta menjemur diri. Selain keindahan pantainya, pantai Kuta juga menawarkan berbagai macam jenis hiburan lain misalnya bar dan restoran di sepanjang pantai menuju pantai Legian. Rosovivo, Ocean Beach Club, Kamasutra, adalah beberapa club paling ramai di sepanjang pantai Kuta.

Pantai ini juga memiliki ombak yang cukup bagus untuk olahraga selancar (surfing), terutama bagi peselancar pemula. Lapangan Udara I Gusti Ngurah Rai terletak tidak jauh dari Kuta.
»»  READMORE...

Pasar seni Sukawati

Bali seakan tidak pernah habis untuk dibicarakan. Kesenian dan pesona alamnya seakan tidak pernah luntur ditelan zaman. Wisatawan, baik lokal maupun mancanegera, seakan tidak pernah puas untuk datang kembali ke pulau dewata ini.

Tempat yang biasa dijadikan pilihan wisatawan untuk membeli oleh-oleh dari Bali, salah satunya adalah Pasar Seni Sukawati. Dimana Pasar Seni Sukawati ini terletak di Daerah Tingkat II Gianyar, yang terkenal dengan keseniannya. Berbagai jenis kerajinan ada di sana, mulai dari kaos khas Bali, patung, lukisan, sprei, bisa didapatkan dengan harga yang murah.

Harga yang ditawarkan biasanya tinggi, tapi masih bisa ditawar lagi. Tergantung dari kesepakatan antara penjual dan pembeli. Nah, di sini dibutuhkan keberanian dan kesabaran untuk tawar menawar harga, agar bisa mendapatkan barang dengan harga yang paling murah. Sebagai gambaran, saat saya menanyakan harga kaos oblong khas Bali (warna), penjual mengatakan Rp 45.000,- per potong, sedangkan kaos oblong khas Bali (putih) harganya Rp 35.000,-.

Setelah melalui proses tawar-menawar yang alot, mulai dari tawaran sepuluh ribu, dua belas ribu, empat belas ribu, akhirnya kaos oblong khas Bali (warna) tadi, diberikan hanya dengan harga Rp 15.000,- saja. Kaos oblong khas Bali (putih) pun akhirnya diserahkan hanya dengan harga Rp 10.000,- saja.

Tapi, saya tidak tahu apakah harga yang saya tawar tadi adalah harga yang paling rendah atau sebenarnya masih bisa ditawar lagi, saya tidak tahu. Yang jelas, menurut saya, harga segitu sudah cukup murah untuk wilayah Bali, apalagi Bali merupakan kawasan wisata internasional.

Tapi menurut seorang teman, jika kita bisa bahasa Bali, dan menawar dengan dialog Bali, kita bisa mendapatkan harga yang sangat murah. Barangkali si penjual mengira kita orang Bali asli. Kalau memang begitu, mungkin saya perlu kursus privat bahasa Bali, sehingga kalau tahun depan wisata ke Bali lagi, bisa membawa oleh-oleh dengan harga yang sangat murah.

Devari, yang memang orang Bali asli, atau Efi, orang Nganjuk yang tinggal di Bali, mungkin bisa membantu saya untuk belajar bahasa Bali. Hehehe…

Ada satu hal menarik yang tidak boleh dilewatkan di Pasar Seni Sukawati ini. Para perempuan penjual kerajinan di Pasar Seni Sukawati, biasanya selalu mengenakan selendang tipis yang diikatkan di pinggangnya. Konon, kita bisa mengenali status perkawinan mereka hanya dengan melihat ikatan selendang yang ada di pinggangnya itu.

Keterangan Foto :
1. Gapura yang merupakan pintu gerbang Pasar Seni Sukawati tampak dari halaman parkir
2. Perempuan yang mengenakan selendang dengan simpul di depan sebagai tanda masih belum menikah
3. Salah satu penjual kerajinan sedang merapikan barang dagangannya

Selendang yang simpulnya di depan, berarti dia masih gadis. Selendang yang simpulnya ada di samping, berarti dia sudah menikah. Sedangkan selendang yang simpulnya ada di belakang, berarti dia janda.
»»  READMORE...

Pasar seni Sukawati

Bali seakan tidak pernah habis untuk dibicarakan. Kesenian dan pesona alamnya seakan tidak pernah luntur ditelan zaman. Wisatawan, baik lokal maupun mancanegera, seakan tidak pernah puas untuk datang kembali ke pulau dewata ini.

Tempat yang biasa dijadikan pilihan wisatawan untuk membeli oleh-oleh dari Bali, salah satunya adalah Pasar Seni Sukawati. Dimana Pasar Seni Sukawati ini terletak di Daerah Tingkat II Gianyar, yang terkenal dengan keseniannya. Berbagai jenis kerajinan ada di sana, mulai dari kaos khas Bali, patung, lukisan, sprei, bisa didapatkan dengan harga yang murah.

Harga yang ditawarkan biasanya tinggi, tapi masih bisa ditawar lagi. Tergantung dari kesepakatan antara penjual dan pembeli. Nah, di sini dibutuhkan keberanian dan kesabaran untuk tawar menawar harga, agar bisa mendapatkan barang dengan harga yang paling murah. Sebagai gambaran, saat saya menanyakan harga kaos oblong khas Bali (warna), penjual mengatakan Rp 45.000,- per potong, sedangkan kaos oblong khas Bali (putih) harganya Rp 35.000,-.

Setelah melalui proses tawar-menawar yang alot, mulai dari tawaran sepuluh ribu, dua belas ribu, empat belas ribu, akhirnya kaos oblong khas Bali (warna) tadi, diberikan hanya dengan harga Rp 15.000,- saja. Kaos oblong khas Bali (putih) pun akhirnya diserahkan hanya dengan harga Rp 10.000,- saja.

Tapi, saya tidak tahu apakah harga yang saya tawar tadi adalah harga yang paling rendah atau sebenarnya masih bisa ditawar lagi, saya tidak tahu. Yang jelas, menurut saya, harga segitu sudah cukup murah untuk wilayah Bali, apalagi Bali merupakan kawasan wisata internasional.

Tapi menurut seorang teman, jika kita bisa bahasa Bali, dan menawar dengan dialog Bali, kita bisa mendapatkan harga yang sangat murah. Barangkali si penjual mengira kita orang Bali asli. Kalau memang begitu, mungkin saya perlu kursus privat bahasa Bali, sehingga kalau tahun depan wisata ke Bali lagi, bisa membawa oleh-oleh dengan harga yang sangat murah.

Devari, yang memang orang Bali asli, atau Efi, orang Nganjuk yang tinggal di Bali, mungkin bisa membantu saya untuk belajar bahasa Bali. Hehehe…

Ada satu hal menarik yang tidak boleh dilewatkan di Pasar Seni Sukawati ini. Para perempuan penjual kerajinan di Pasar Seni Sukawati, biasanya selalu mengenakan selendang tipis yang diikatkan di pinggangnya. Konon, kita bisa mengenali status perkawinan mereka hanya dengan melihat ikatan selendang yang ada di pinggangnya itu.

Keterangan Foto :
1. Gapura yang merupakan pintu gerbang Pasar Seni Sukawati tampak dari halaman parkir
2. Perempuan yang mengenakan selendang dengan simpul di depan sebagai tanda masih belum menikah
3. Salah satu penjual kerajinan sedang merapikan barang dagangannya

Selendang yang simpulnya di depan, berarti dia masih gadis. Selendang yang simpulnya ada di samping, berarti dia sudah menikah. Sedangkan selendang yang simpulnya ada di belakang, berarti dia janda.
»»  READMORE...

Joger

Dulu (sebelum 1981) kata atau gabungan dari lima huruf J+O+G+E+R memang belum pernah ada atau setidak-tidaknya belum pernah kita lihat maupun dengar dipakai di mana pun, kapan pun maupun oleh siapa pun juga, tapi pada akhir tahun 1980, ketika kami merencanakan untuk memiliki sebuah nama bagi toko kecil kami yang waktu itu akan kami buka di Jl. Sulawesi 37, Denpasar (tepat di depan Pasar Badung - Pasar Tradisional terbesar di Bali), oleh pihak Kantor Perdagangan, kami diminta dan bahkan diwajibkan untuk memiliki sebuah nama bagi toko kami, agar toko kami bisa dibedakan dengan toko-toko orang lain yang tentu saja juga atau bahkan sudah punya nama, seperti Toko Sinar Mas, Toko Merdeka, Toko Jaya Abadi, Toko Murah, Toko Sederhana dan lain-lainnya, tapi kami/saya (Joseph Theodorus Wulianadi) yang terlahir pada pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1951 (di atas sebuah tempat tidur) di kota Denpasar (ibu kota Bali) yang tampaknya sudah terbiasa untuk bersikap "lain daripada yang lain" (suka nyleneh) waktu itu seperti biasa atau secara alami, subyektif, otonom (merdeka) dan wajar menolak untuk menamai toko kami dengan nama yang umum atau apalagi yang berbau "public domain".

Dari seperti yang juga biasa saya lakukan, waktu itu pun saya (untuk beberapa hari) memutar otak (berpikir/berdebat dengan diri saya sendiri), merenung dan bermeditasi untuk mengotak-atik beberapa huruf maupun kata untuk diolah menjadi sebuah nama yang minimal harus benar-benar uniek. Dan waktu itu bukanlah hanya sekedar kebetulan kalau kami/saya memilih lima huruf berbunyi JOGER untuk menamakan toko kami yang akan kami buka dan waktu itu sedang kami urus izin dagangnya, karena gabungan lima huruf berbunyi JOGER itu memang sengaja kami buat bukan hanya karena benar-benar lain daripada yang lain, melainkan juga karena nama/istilah/bunyi JOGER itu adalah juga merupakan sebuah itikad/niat/hasrat/tujuan/maksud yang murni muncul dan keluar dari lubuk hati kami yang terdalam untuk mengenang dan/atau menghargai kebaikan Mr. Gerhard Seeger mantan teman sekolah saya dulu (di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat, tahun 1970-an) yang telah menghibahkan dana segar sebesar US $ 20.000 sebagai hadiah pernikahan kami (saya dan istri saya tercinta Ery Kusdarijati), di mana nama JOGER (huruf E-nya dibaca seperti "E" dalam menyebut "ENAK" atau "EKONOMI") itu adalah merupakan penggabungan antara 2 huruf nama depan saya JOseph Theodorus Wulianadi dengan 3 huruf nama depan teman kami Mr. GERhard Seeger, di mana di samping memang benar-benar berbunyi baru (murni hasil inovasi kami/bukan public domain), berbeda dan uniek, ternyata nama JOGER ini memang mudah diingat, enak didengar, barbau jantan dan kami juga memang benar-benar suka pada nama dan bunyi JOGER tersebut.


Lalu mulai tanggal 19 Januari 1981 (hari lahir JOGER), nama JOGER itupun secara praktis, de facto dan benar-benar terbuka (di forum publicum) kami pakai untuk menamakan toko kami yang pertama tersebut, karena waktu itu di samping mencantumkannya dalam izin dagang kami, nama JOGER juga sudah langsung kami cantumkan pada papan nama toko kami yang waktu itu (maaf!) masih perlu dan masih boleh berbunyi & berbau kebarat-baratan, yaitu "ART & BATIK SHOP JOGER" yang kami pajang di bagian depan atas toko kami. Dan sejak itu pulalah sebenarnya nama JOGER murni merupakan hasil rekayasa atau ciptaan saya/kami tersebut mulai kami pakai, jaga, pelihara serta tumbuh kembangkan nilai-nilai moral, nilai-nilai social, ekonomi maupun spiritualnya dalam kiprah kami sebagai "pengusaha yang seniman" atau "seniman yang pengusaha" justru dengan senantiasa bersikap BAJU2RA5BER alias bersikap BAik, JUjur, RAmah, RAjin, BERtanggung jawab, BERani, BERinisiatif, BERsyukur dan sehingga kami pun bisa benar-benar BERmanfaat bukan hanya bagi diri atau toko kami secara sempit saja, melainkan juga bermanfaat bagi para stakeholder (sesama) maupun bagi lingkungan hidup yang konon sama-sama kita cintai serta dambakan kelestariannya secara wajar (adil & beradab) dan berkesinambungan.

Demikianlah, dulu sebelum 19 Januari 1981 sama sekali belum pernah ada pihak lain yang melihat, mendengar, memakai, tertarik, perduli, menjaga, memelihara serta menumbuhkembangkan nama JOGER sampai boleh dan bisa menjadi sebuah nama besar dan harum yang bahkan sering kali dianggap identik dengan T Shirt - T Shirt atau kaus-kaus (kaos-kaos) maupun souvenir-souvenir dengan disain kata-kata uniek/khas karya Mr. Joger yang walaupun sebenarnya sudah punya kemampuan, peluang maupun permintaan pasar yang sangat besar untuk membuka cabang atau mengembangkan sayap ke mana-mana, tapi karena merasa dan sadar bahwa kami bukanlah pohon yang harus bercabang-cabang dan juga bukan burung yang harus mengembangkan sayap kesana ke mari, maka sejak tanggal 7 Juli 1987 (777), di samping memutuskan untuk punya hanya satu toko yang terletak di Jl. Raya Kuta (sejak dulu memang tanpa nomer), Kuta, Bali ini saja, kami juga secara tegas membatasi pembelian kaus-kaus (T Shirt) JOGER, dan juga secara tegas melarang penjualan semua produk bermerek dagang, bercap JOGER dan bertanda tangan JOGER untuk diperjualbelikan sebagai komoditi biasa di luar satu-satunya gerai kami yang sejak 1990 sudah kami sebut sebagai Pabrik Kata-Kata JOGER, (Jl. Raya Kuta, Kuta, Bali). Terima kasih atas perhatian serta simpati Anda pada JOGER yang kecil dan jelek, tapi sehat dan tidak jahat ini.
»»  READMORE...